KAOS BOLONG & KUSNAEDI

Tinggalkan komentar

15 Januari 2009 oleh mbi9

OLEH:
PHILIPUS VEMBREY HARIADI
(MBI)

Seorang pemuda dengan pakaian lusuh melangkah terseok di tengah lorong sebuah pertokoan. Ia menundukkan kepala, berjalan sesuai dengan tuntunan langkahnya. Tanpa arah, tanpa teman di sampingnya. Hanya kaki dan pikiran yang menuntunnya.
Ia adalah Kusnaedi. Laki-laki yang berusia dua puluh tujuh tahun. Ia terpaksa meninggalkan desa tempat asalnya demi sesuap nasi. ia meninggalkan desa asalnya karena sudah tidak memiliki tempat tinggal. Isteri dan anaknya telah meninggal dunia dalam gempa bumi yang melanda sebulan yang lalu.
Pada saat terjadinya bencana, ia sedang berada di luar rumah. Saat ia merasakan gempa, ia sempat merasakannya. Sebab saat itu ia sedang mencari kayu di hutan. Beberapa menit setelah gempa, ia lari menuju rumah. Di sana ia hanya melihat pergelangan tangan dan anaknya yang telah tertutup dengan atap rumah. Ia hanya bisa menangisi keduanya.
Kini bermodalkan kaos yang sudah lengkap dengan riasan corengan hitam, ia berdiri di depan sang lampu penuntun kendaraan. Terkadang, ia terlihat menggaruk-garuk eambutnya yang telah berubah warna menjadi keemasan. Karena sudah satu bulan ia belum merasakan harumnya shampoo clear, sunsilk dan pantene. Ia hanya dapat merasakan wangi shampoo yang dikeluarkan dari knalpot bis P.64, P.42, dan metro mini 19.
Hidupnya tidak tergantung pada makanan yang tertata rapih di atas piring. Ia mengandalkan timbunan sampah yang ada di barisan gagah gedung-gedung dari Jenderal yang sedang memberikan hormat. Ia pun membaringkan badannya di jalan yang sering diwarnai dengan bunyi sirene dari mobil-mobil yang dilengkapi dengan bendera berwarna merah putih. Pengawalnya pun berbadan besar dan dilengkapi dengan kacamata hitam dan motor besar.

*******
Suatu siang Kusnaedi mengeluarkan lantunan puisi lantang yang dikeluarkan dari hatinya sambil menangis.
“Anakku…..anakku ke manakah anakku? Anakku, anakku….ke manakah? Ayo kita main bersama. Bapak sudah membeli mainan buat kamu. Isteriku, aku sudah pulang. Tolong buatkan aku kopi…tapi dengan senyumanmu ya….karena kopi buatanmu meski pahit dengan melihatmu terasa manis…..”
Setelah melantunkan sebait puisi alam, Kusnaedi menangis, menangis dan menjerit. Seakan dunia ini hanya untuknya.
“Tuhan, Tuhan kenapa Engkau mengambil anak dan istrikku?”
Ia menunduk dan berkata lagi,
“Tuhan gila, Tuhan gila, Tuhan gila,…”
Seraya melantunkan kidung agung itu, hujan pun mulai membasahi aspal di tempat di mana ia berdiri. Ia hanya terdiam, tak bergeming. Hujan menjadi temannya, awan mendung menjadi payungnya. Ia pun melanjutkan petualangannya bersama kaos bolongnya.
Ia tiba di sebuah gedung. Sebuah gedung yang menurut banyak orang adalah tempat orang membungakan uangnya. Di sana ia bertemu dengan sebuah kendaraan berwarna biru tua dengan sedikit lorek orange. Ia melihat mobil itu bagaikan ruang teras rumahnya. Ia rebahkan badannya pada kursi panjang yang ada di bagian belakang mobil itu. Sebab kursi belakang dari mobil itu tidak ditutup dengan besi.
Di atas kursi itu, ia menyanyi lagu sambil menghisap sebatang putung rokok yang sudah usang terinjak kaki. Ia bernyanyi terus sampai datang beberapa orang dan akhirnya membawa dia turut serta dalam mobil itu. orang-orang itu berbaju biru tua. Sama persis dengan warna mobil yang membawanya. Di dalam mobil itu tanpa takut ia terus bernyanyi. Meski kedua tangannya dipegang dengan keras oleh orang-orang itu.
Mobil itu berhenti di suatu tempat yang jarang dilewati oleh barisan pengawal bersirene. Di tempat itu, Kusnaedi hanya bertemu dengan deru kereta dan raungan sirene kereta.
Pada akhirnya, ia tetap duduk sambil terus merenungkan dua orang yang dicintainya yang kini telah tiada. Ia terus merenungkannya, ia tidak makan dan minum. Terkadang ia memanggil nama dua orang yang dicintainya. Terkadang ia menari dengan deruan kereta sebagai musik pengiring. Hidup dijalani tanpa ada pikiran akan makan. Nadinya dihabiskan di pinggiran pintu rel kereta api.
Naasnya, beberapa bulan sesudah memainkan tarian lepas, Kusnaedi menutup usianya. Bersamaan dengan bunyi nada peringatan akan kereta yang akan melintas, ia membungkukkan tubuh secara perlahan. Tiada lagi teriakkan, tiada lagi tarian dan tiada lagi ramah senyum tanpa maksud darinya. Kusnaedi sudah menghadap pada apa yang disebutnya sebagai “Tuhan Gila”.
Tubuhnya diangkat dan dibawa ke sebuah rumah sakit milik universitas negeri di kota ini. Seluruh organnya dipergunakan sebagai sarana praktek bagi para mahasiswa yang belajar di sana. Seandainya ada sebuah organ tubuh yang masih bagus dan bisa dipergunakan, maka organ tersebut dapat dijual kepada orang yang membutuhkannya. Yang tersisa hanyalah kaos oblong yang dihiasi dengan lubang-lubang karya alam.
Kini, Kusnaedi sudah memiliki panggung untuk mementaskan tarian dan puisinya sendiri. Tiada lagi tatapan yang sinis, tiada lagi ketakutan untuk mendekatinya, tiada lagi seretan dan paksaan dari petugas berbaju biru gelap, tiada lagi makanan yang dipungutnya dari tempat sampah, dan tiada lagi orang yang merasa terganggu akan tariannya. Ia sudah tersenyum dengan lebar, tariannya akan diringi dengan tabuhan genderang yang berirama riang, tiada duka, apa yang diteriakkan telah terjawab. Kusnaedi adalah pahlawan organ tubuh dengan sebuah kenangan kaos oblong yang bolong.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

date

Januari 2009
S S R K J S M
    Feb »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

ART

YANG SUDAH MENGUNJUNGI

  • 162,744 PEMBACA

Iklan Anda

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 821 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: