STYLE VS SAHABAT

1

30 Agustus 2009 oleh mbi9

OLEH :
PHILIPUS VEMBREY HARIADI

“Sita,….Kamu harus mengikuti gaya rambut seperti aku. Karena gaya rambutmu itu sudah kuno dan enggak trend lagi. Itu pun klo kamu ingin terlihat lebih cantik”. Lirih Maya kepada Sinta.
“Iya, nih…Payah. Dari dulu sampai sekarang gaya rambutmu gitu-gitu aja. Ubah donk…biar banyak cowok yang naksir tuh”, tambah Lina sambil mengaduk segelas lemon juice yang tersisa setengah gelas.
Ketiga wanita itu adalah teman sekelas sewaktu memakai rok berwarna abu-abu. Pada saat itu, mereka selalu bersama-sama. Pergi ke mall harus bersama, ke kamar mandi bersama dan bahkan bolos sekolah pun harus bersama. Hanya satu yang tidak mereka jalani bersama, tinggal dan makan bersama orang tua.
“Kamu enak anak orang kaya dengan begitu gampang bisa pergi ke salon. Sedangkan aku…aku ini anak dari keluarga yang pas-pasan. Mau bayar kuliah, pas orang tua punya uang. Mau pergi wisata, pas di RT ada wisata gratis”, jawab Sita menanggapi keinginan dua orang sahabatnya.
Sejak lulus dari SMA, Sita memang tidak mengalami perubahan yang berarti dalam penampilan. Rambutnya yang panjang selalu digerai. Kalau hawa terasa panas, ia akan mengikat rambutnya dengan ikatan rambut yang dipergunakannya sejak sekolah. Pakaiannya pun bukan keluaran Distro ternama. Tetapi ia merasa nyaman akan semua itu. sebab ia sadar bahwa ia berasal dari keluarga yang seraba pas-pasan.
“Gak gitu juga kali, Ta. Pelan-pelan aja..hari ini kamu rubah rambut, bulan depan kamu ganti model pakaian. Begitu terus sampai kamu terus mengikuti trend fashion yang ada”, jawab Lina.
Lina adalah seorang anak perempuan dari keluarga dalam kategori cukup. Ibaratnya, jika ingin membayar kuliah, uangnya cukup untuk bayar kuliah dan sisanya cukup untuk jajan seminggu. Sisanya, kasbon ke tetangga. Tetapi Lina selalu ingin mengikuti tren pakaian yang digunakan oleh Maya. Tetapi ia agak sedikit jutek jika bertemu dengan seorang pria yang bukan berasal dari orang kaya.
“Apa perlu aku bayarin?”, tanya Maya kepada Sita.
“Gak usah, May. Aku juga gak minat untuk merubah gaya pakaianku. Aku lebih nyaman dengan penampilan seperti ini”, jawab Sita kepada Maya sambil melambaikan kedua tangannya memberikan tanda bahwa ia tidak ingin menerima bantuan Maya.
“Ayo donk Sita… anggap aja ini hadiah dariku. Kamu gak usah ganti uangnya. Yang penting kamu bisa tampil lebih cantik seperti aku. Apakah kamu gak ingin tampil cantik seperti aku?”, ajak Maya seraya menarik-narik tangan Sita.
Maya memang anak orang kaya. Tak heran jika ia memiliki begitu banyak uang, sehingga ia ingin membiayai Sita untuk merubah gaya pakaiannya.
“Aku gak mau, May…Jangan paksa aku donk”, Sita menarik tangannya dan ia pun mengambil tasnya untuk pergi ke suatu tempat.
“Aku mau pergi dulu. Aku gak mau kumpul dengan kalian sampai kalian mau menerima aku apa adanya”, ucap Sita sambil melangkah pergi dari meja tempat mereka berdiskusi dan mengambil tasnya dengan bergegas.
Maya dan Lina saling menatap setelah melihat apa yang dilakukan oleh Sita.
“Sepertinya dia marah pada kita, May”, ungkap Lina.
“Biarkan saja, nanti juga dia berkumpul kembali dengan kita. Yuk, kita ke perpustakaan, cari buku untuk tugas kuliah. Aku punya tugas kuliah nih…tugas makalah lagi”, tanggap Maya terhadap ungkapan Lina.
Sementara itu, Sita terus melangkah menuju ruangan Senat. Sebuah tempat dimana teman-temannya berkumpul. Di dalam perjalanannya itu, benaknya terus bergejolak karena teringat akan kata-kata kedua temannya.
“Apakah aku harus merubah penampilanku? Apakah dengan berpenampilan seperti ini semua orang memandangku enggak modern? Apakah dengan berpenampilan seperti ini, aku tidak akan mendapatkan pacar?”, gulat benak Sita.
Akhirnya Sita sampai di tempat yang dinamakan gedung Senat. Sesampainya di sana, ia melongok teman-temannya. Sepertinya ia tengah mencari sahabat dekatnya. Ia adalah Romy. Romy adalah teman sekelas dan satu angkatan dengannya. Sita sering mencurahkan isi hati kepada Romy. Romy pun bisa menjadi pendengar dan penasihat yang baik bagi Sita. Mereka tidak mengikat suatu hubungan tetapi mereka adalah sahabat. Sebab Romy sudah mempunyai tambatan hati.
“Lihat Romy gak?”, tanya Sita kepada Yandi teman seorganisasinya.
“Romy lagi makan siang, Ta. Dari tadi ia belum balik. Padahal udah satu jam lebih”, jawab salah seorang temannya yang tengah asyik mengetik di note booknya.
Sita bergegas mengambil handphone dari saku celana. Ia hendak mengirim sms kepada Romy. Agar ia bisa mengungkapkan isi hati dan kegundahannya akan kata-kata dari kedua temannya.
Sms pun dikirim ke nomor yang dimiliki oleh Romy. Isinya menyatakan bahwa Sita membutuhkan Romy untuk bergegas menemuinya. Sebab ia ingin curhat. Setelah itu pun, Sita menunggu kabar dari Romy. Sambil menunggu, ia menghabiskan waktu dengan membaca buku.
“Hai, Ta, ada apa? Kelihatannya penting sekali. Kamu kenapa?”, sapa Romy sambil mengejutkan Sita dengan memegang bahunya. Sita terkejut dan memukul Romy dengan bukunya.
“Kamu tuh…ngagetin aku aja…ada waktu? Aku mau konsultasi nih…”, tanya Romy untuk meminta kesediaannya.
“Ada, memang ada apa? Tapi kita ngobrol sambil nngopi aja yah…karena aku belum ngopi dari pagi”, jawab Romy sambil memegang perutnya.
“Ok, deh..kita ke warteg aja gimana?”.
“Ok deh…itu tempat kesukaanku”, jawab Romy.
Keduanya berjalan menuju warteg (warung tegal) yang tidak jauh dari kampus. Sambil berjalan, keduanya terlibat diskusi mengenai kuliah. Keduanya berdiskusi mengenai tugas-tugas dari mata kuliah. Sampai akhirnya mereka tiba di warteg.
“Kopi hitam dan the manisnya hangat satu, mas”, seru Romy dengan suara lantang.
“Ada apa, Ta?”, tanya Romy kepada Sita.
“Begini, Rom. Barusan aku nongkrong bersama teman-teman sekolahku. Aku BT banget nih…masa, aku diminta merubah gaya penampilanku. Apa benar penampilanku tidak bisa dijadikan alasan untuk mendapat teman yang banyak? Apakah dengan penampilanku, aku tidak akan mendapatkan pasangan hidup atau pacar? Apakah dengan penampilanku, aku tidak bisa bergaul lagi dengan teman-teman sekolahku?” tanya Sita meluapkan kesuntukkannya akan kata-kata dari kedua temannya tadi.
“Ha..ha…ha…ha, Sita, Sita. Kamu jadi gak percaya diri gitu sih…memang beberapa teman juga memerhatikan penampilanmu. Tetapi mereka tidak menghendaki perubahan yang berarti dalam penampilanmu. Memang apa yang kamu harapkan jika kamu berubah?”, jawab Sita sambil tertawa keras.
“Aku hanya berharap bahwa aku bisa mendapatkan kekasih”, ungkap Sita kepada Romy sambil menggaruk-garuk rambutnya. Seakan-akan ia hendak menyatakan bahwa ia malu untuk menyatakan hal tersebut.
“Oh….Begitu”, tanggap Rommy sambil mengeluarkan sebatang rokok dan koerk api dari sakunya.
“Begini, kamu sadar apa yang kamu katakan dan inginkan?”.
“Iya…”.
“Lebih baik jadilah dirimu sendiri. Jadilah Sita yang seperti ini. Sebab jika kamu menjadi diri yang diinginkan oleh kedua temanmu itu, kamu akan kehilangan jati dirimu. Lagi pula, kamu harus tahu satu hal bahwa cinta tidak selalu memandang penampilan. Ia hanya memandang hati. Jadi, kamu jangan menjadi apa yang dikehendaki oleh orang lain, jika itu tidak sesuai dengan keadaan dan keinginanmu. Katakanlah pada kedua temanmu yang katanya “modis” itu bahwa persahabatan lebih berarti dari pada modis. Jika kalian ingin persahabatan ini masih berjalan, kalian harus menerima apa adanya diriku. Karena persahabatan tidak pernah memandang jelek atau buruk, modis atau kuno. Tetapi persahabatan lebih dari itu”, saran Romy kepada Sita sambil mengepulkan asap rokok ke atas. Sarannya keluar bagaikan asap rokok itu keluar dengan mudah dari mulut dan hidungnya.
Ceramah itu terpotong oleh alunan lagu “Tong Kosong” yang dinyanyikan oleh grup musik Slank. Ya, tak lain lagi, lagu itu keluar dari handphone milik Romy. Ia adalah penggemar grup musik Slank. Tetapi ia tidak sefanatik orang yang menonton lalu berkelahi. Ia melihat ke arah ponse;nya itu. Nampaknya sebuah pesan penting telah mendarat di sana. Terlihat dari raut wajah Romy yang mulai berubah.
Romy bergegas memaukkan handphone ke dalam sakunya kembali.
“Ta, aku duluan ya. Aku ditunggu pacarku di kantin”, sapa Romy dengan terburu.buru.
Sita hanya terdiam melihat Romy yang berlaku demikian. ia terbiasa melihat Romy yang selalu pergi untuk menjemput pacarnya.
“Ta, udahlah tidak usah terlalu dipikirkan. Intinya, itu semua tergantung pada dirimu sendiri. Jika kamu ingin berubah dan itu kamu rasakan nyaman, lakukan. Tetapi jika tidak, jangan kamu paksakan. Jangan kamu buat susah masalah tang sebenarnya sudah terlihat solusinya, ya”, nasihat Romy sambil menggegam bahu Sita.
Sita merespon nasihat itu dengan beribu anggukan. Nampak seperti ayam yang tengah makan, ia terus menganggukan kepalanya, hingga akhirnya Romy pun menghilang di antara hiruk pikuk kendaraan yang melintas.
Sita terus memikirkan nasihat-nasihat itu. tangannya menggenggam gelas yang berisi teh manis yang mulai mendingin. Ia seperti seorang penemu yang sedang memikirkan experimennya. Ia juga bagaikan seorang filsuf yang terus memikirkan hal-hal yang ada di depan matanya. Tapi ia bukan penemu, ia juga bukan filsuf, ia hanya seorang pemudi yang tengah menyelesaikan masalah.
Ia berpikir, jika aku berubah, tentu perubahan itu akan mempengaruhi perekonomian keluargaku. Uang jajan yang bisa diberikan habis hanya untuk keperluan kosmetik, pakaian dan rambut. Jika tidak, tentu teman-temanku yang bawel dan centil itu akan menjauhiku.
“Ah…gitu aja kok repot. Ngapain berubah, jika itu hanya membawa kesengsaraaan bagi aku dan keluargaku? Mas, jadi berapa kopi dan teh manisnya?”, tanya Sita kepada pedagang di warteg itu.
Sita kembali menuju gedung yang penuh dengan mahasiswa dan mahasiswi. Ia berjalan penuh dengan kepastian. Ia seperti membawa bom yang akan diledakkan di hadapan kedua teman yang telah membuatnya berpikir keras.
“Ta, kamu dari mana?”
Sita terkejut mendengar sapaan itu. Ternyata sapaan itu keluar dari kedua orang yang telah membuatnya berpikir keras akan perubahan penampilan. Mereka adalah Maya dan Lina.
“Aku dari warteg. Ada satu hal yang mesti kalian ketahui tentang pendapat kalian terhadap aku. Aku akan berubah tetapi jika waktu mengijinkan itu terjadi. Saat ini aku masih menikmati keadaan yang membuatku seperti ini. aku akan senang sekali jika aku memiliki seorang sahabat yang mau menerima aku apa adanya. Ia tidak membuatku merasa tersingkir, ia membuatku merasa nyaman dan bahkan ia membuatku merasa menjadi diriku sendiri. tidak seperti kalian…yang menginginkan perubahan penampilanku. Sementara perekonomian keluargaku masih morat-marit. Satu hal yang harus kalian ingat, perubahan bukan hanya pada penampilan. Tetapi yang terpenting dari dalam. Udahlah, aku ingin ke ruanng senat. Makasih”, ungkap Sita sambil kembali berjalan.
Akhirnya Sita merasa bebas setelah mengungkapkan perasaannya. Ia tidak lagi direpotkan dengan perubahan yang dikehendaki kedua sahabatnya. Ia sadar bahwa perubahan itu justru akan membuat perekonomian keluargnya semakin sulit. Ia tidak menghendaki hal itu terjadi. Oleh sebab itu, ia memutuskan untuk berubah jika ada waktu dan akan merubah sesuatu yang ada di dalam dirinya.

One thought on “STYLE VS SAHABAT

  1. Intan mengatakan:

    Penampilan menarik bisa membuat orang terkesan di awal dan sementara. Namun pribadi menarik akan membuat orang selamanya akan terkesan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

date

Agustus 2009
S S R K J S M
« Jul   Sep »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

ART

YANG SUDAH MENGUNJUNGI

  • 163,456 PEMBACA

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 821 pengikut lainnya

SPACE IKLAN

2560x1440-black-solid-color-background
%d blogger menyukai ini: