KUNCI POKOK

Tinggalkan komentar

22 Desember 2009 oleh mbi9

Oleh:
PHILIPUS VEMBREY HARIADI

Entah mengapa pada akhir-akhir ini dunia terlihat berantakkan. Entah mengapa juga beberapa pemimpin negara sepertinya ingin kembali mempertahankan kekuasaannya. Entah mengapa juga perdamaian di timur tengah belum juga tercapai. Entah mengapa juga hasil pertemuan di Kopenhagen hanya berujung pada keputusan yang nampaknya menguntungkan pihak-pihak yang berkepentingan.

Hah..nampaknya agak sedikit membosankan dan menegangkan ketika mendiskusikan seluruh permasalahan di atas. Namun, jika dilihat, pada dasarnya itu merupakan unsur manusia yang paling dalam. Di mana manusia memiliki unsur untuk mendominasi segala hal termasuk di dalamnya keuntungan (ekonomi) atau pun kekuasaan (politik). Itulah unsur yang terkadang timbul di dalam diri manusia.

Untuk menggambarkan kenyataan mengenai hal tersebut tidaklah cukup dengan tinta dan kertas. Karena akan menghabiskan banyak untuk menggambarkannya. Apalagi melukiskannya, wah….bisa-bisa habis tinta di seluruh dunia.

Namun yang pasti untuk keluar dari segala permasalahan yang ada dan akan dihadapi pada masa depan ada beberapa solusi yang perlu diperhatikan, yakni turunkan egoisme yang ada pada diri kita masing-masing, kurangi ketergantungan pada pihak-pihak penguasa dan komitmen kuat pada diri sendiri.

TURUNKAN EGOISME

Dalam sebuah rapat para pengusaha besar terjadi sebuah perdebatan. Pihak yang satu ingin idenya diterima dalam rapat tersebut. Karena apa? Tidak tahunya untuk menguntungkan diri dan perusahaannya sendiri. Yah…hitung-hitung buat nabung beli mobil atau villa baru…..Pihak yang lain pun demikian. Tak ubahnya dengan pihak yang pertama. Bahkan pihak yang ketiga lebih bersikap keras lagi terhadap argumentasi yang dibangun dalam rapat.

Nah…hal itulah yang kadang kita jumpai dalam setiap pertemuan. Apakah di KTT Kopenhagen mengalami hal yang sama. Kemungkinan besar saya katakan “iya”. Karena terlihat sekali bahwa pihak-pihak yang tidak ingin melepaskan keuntungan atau pun keunggulan yang dilahirkan dari negaranya. Atau mungkin jika mengikuti pola pikir pihak pengusaha yang saya contohkan di atas, beberapa pihak tersebut berpikiran, “jika saya mengikuti keputusan yang dihasilkan, maka ekonomi negara saya bisa hancur”. Waduh…gawat jika setiap pemimpin yang hadir di tempat perundingan KTT-Kopenhagen memiliki pola pikir demikian. Maka yang terjadi adalah kepulauan Kiribati dan mungkin kepulauan lainnya akan tenggelam.

Namun, tidak hanya dalam moment pada KTT tersebut. Moment-moment lainnya pun juga kadang dipenuhi dengan intrik-intrik yang saya sebutkan di atas.

Tidak ubahnya dengan kisah perjalanan hidup kita, ada sikap yang seharusnya ditegakkan, yakni belajar dari pengalaman. Bayangkan jika dalam setiap pertemuan pemimpin negara atau politik memiliki paradigma yang kurang lebih sama dengan kisah di atas, apa yang terjadi? Maka egoisme yang ada di dalam diri kita sekiranya diturunkan 36 derajat celcius atau beruntung menjadi 360 derajat celcius. Jadi, bukan saja suhu bumi yang diturunkan tetapi juga ambisi kuat untuk menjadi dominator harus diturunkan.

KURANGI KETERGANTUNGAN

Kembali belajar dari pertemuan KTT di Kopenhagen. Habis…tidak ada bahan refleksi menarik selain menganalisis hasil pertemuan para pemimpin di dunia. Jadi, saya pilih pertemuan tersebut sebagai bahan refleksi saya.

Saat beberapa minggu sebelum pertemuan KTT Kopenhagen dimulai, begitu banyak masyarakat, entah dari daerah tersebut atau dari kalangan aktivis, berdemonstrasi. Mereka menggalang aksi yang berslogankan “save the earth” atau menyelamatkan bumi. Hal ini mereka lakukan untuk mendorong para pemimpin yang hadir dalam pertemuan tersebut memikirkan nasib milyaran orang yang ada di bumi ini.

Aksi yang mereka lakukan bukanlah hal yang salah. Karena mereka coba membuka mata para pemimpin bahwa ada hal yang lebih urgen ketimbang hanya memikirkan isu nuklir Iran atau pun nuklir Korea. Namun, ada suatu pemandangan di dalam aksi tersebut bahwa terkadang dalam komitmen melakukan perubahan justru diharapkan dari sikap pemimpin, maka jika pemimpin tersebut tidak melakukan perubahan, apa yang terjadi? Hancur…

Oleh sebab itu, ada suatu pesan yang menarik dari hasil pertemuan tersebut adalah jangan tergantung pada suatu hasil keputusan yang diberikan oleh pemimpin. Tetapi bergantunglah terhadap sikap apa yang akan kita tunjukkan sebagai bentuk komitmen untuk melakukan perubahan.

Cukup sampai di sini mengenai analisis saya terhadap sekian banyak permasalahan yang sedang dan akan dihadapi oleh dunia. Di samping hal-hal yang telah saya uraikan di atas ada dua hal yang paling penting di dalam menyikapi seluruh kejadian di atas, yakni “KOMITMEN YANG KUAT dan MEMINTA BANTUAN KEPADA YANG KUASA” agar seluruh hal yang dibuat atas nama komitmen akan membuahkan hasil bagi jutaan atau milyaran rakyat dunia. Semoga Tuhan membantu dan memberkati segala usaha kita. AMIN….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

date

Desember 2009
S S R K J S M
« Nov   Jan »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

ART

YANG SUDAH MENGUNJUNGI

  • 162,186 PEMBACA

Iklan Anda

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 821 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: