Menggugat Istilah ANAK BONTOT

Oleh: Philipus Vembrey Hariadi

“Kan enak anak bontot disayang oleh orang tua”, kata-kata itulah yang kerap saya dengar jika mendengar status saya dalam keluarga.

Melalui tulisan ini saya mau menggugat kata-kata tersebut melalui pengalaman. Banyak hal yang membawa dan menggelitik saya untuk berinisiatif menggugatnya.

Pengalaman saya menyatakan bahwa menjadi anak bontot atau terakhir tidak bisa dibilang enak dan tidak bisa dibilang tidak enak juga. Karena di dalam seluruh proses pengalaman justru menunjukkan bahwa anak bontot adalah harapan terakhir dari keluarga.

Saya bisa menyatakan demikian karena berdasarkan pengalaman, anak bontot membawa dan menyeret saya pada satu kenyataan bahwa beban berat dari anak bontot adalah beban moral yang amat berat.

Misalnya, jika ada satu anggota keluarga yang terkena musibah dan anggota keluarga lain tidak bisa membantu,maka harapan terakhir adalah anak bontot. Apalagi jika ada masalah besar dalam hal relasi sesama anggota, maka anak bontot lagi yang menjadi harapan.

Seperti itulah anak bontot berperan dalam keluarga. So, sepertinya anak bontot menjadi anak kesayangan sudah bisa digugat. Menjadi anak bontot bukanlah hal yang mudah dan tidak juga sulit. Tetapi anak bontot merupakan cerminan kehidupan awal dari tameng pengharapan dari keluarga.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s