Konflik Warisan

on
gambar:pzu.or.id
gambar:pzu.or.id

Oleh: Philipus Vembrey Hariadi

Hari ini saya memperoleh beberapa hal untuk direnungkan. Suatu hal yang pada dasarnya sangat menurunkan derajat manusia. Suatu hal yang justru menghancurkan citra manusia sendiri sebagai makhluk sosial. Suatu hal yang justru meremukkan ikatan persaudaraan. Suatu hal yang dapat saya katakan sebagai “dosa besar” manusia. Hal itu ialah perebutan harta.

Mungkin Anda pernah mengalami hal seperti itu di dalam keluarga besar. Mungkin juga Anda pernah mengalami di dalam kehidupan keluarga pasangan Anda. Itu baru saja saya alami di dalam kehidupan keluarga besar saya. Itu bagi saya merupakan aksi yang kurang manusiawi. Oleh sebab itu, bagi Anda yang sedang berada di dalam kasus tersebut atau belum menjadi kasus, urungkan niat Anda.

Mengapa demikian? Harta yang mungkin diwariskan oleh keluarga adalah harta yang diwariskan untuk seluruh anak-anak. Terutama anak yang memiliki hubungan darah. Bagi orang-orang yang tidak memiliki hubungan darah, jangan ikut terlibat di dalamnya. Tujuan dari ahli waris atau pun pemilik harta tersebut atau dapat saya katakan orang tua membagikan itu pasti memiliki tujuan. Tujuan itu pun baik. Mungkin orang tua membagikannya bertujuan untuk mencegah kesulitan ekonomi yang akan menghadang salah satu anak dan juga mungkin bertujuan untuk menjadikan harta tersebut sebagai pusat atau jalinan keluarga.

Namun, itu perkiraan saya. Tetapi apa yang saya perkirakan itu mulai bergeser. Harta warisan mulai menjadi ajang perebutan. Ada yang meminta bagian sekian persen dan ada juga yang meminta bagian berpersen besar. Ada pula yang mungkin nol persen.

Apa pun itu, masa bodoh. Mengapa saya katakan demikian? Karena di saat terjadi perebutan warisan itu, manusia menjadi makhluk yang kurang logis dan makhluk yang tidak berperikemanusiaan. Bahkan bisa saya katakan manusia yang menjadi terhormat berubah menjadi manusia yang mencerminkan kebinatangan.

Sungguh nurani yang mati akan ada di sana. Sungguh di dalamnya Anda akan menemui sosok-sosok yang sungguh menyerupai hewan.

Sampai saat ini saya pun belum mengetahui bagaimana hal tersebut bisa terjadi secara moral. Tetapi yang jelas sungguh amat sulit bagi pertimbangan moral masuk di dalamnya. Karena dari sekian banyak mata yang berada di dalam kasus tersebut, pasti ada dua atau tiga mata yang tidak menerima keputusan.

Mudah-mudahan untuk para blogger tidak ada yang mengalami nasib seperti ini. Karena sungguh tidak mengenakkan hal seperti ini terjadi di dalam keluarga. Ini bisa menjadi sarana pemutusan hubungan keluarga. Bisa juga menjadi arena untuk membunuh keluarga sedarah. Semoga tulisan ini berguna bagi Anda dan menjadi pertimbangan bagi Anda yang berada di dalam keputusan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s