ORANG TUA TERHADAP TANTANGAN MASA DEPAN ANAK

Tinggalkan komentar

29 Maret 2013 oleh mbi9

Oleh : Philipus Vembrey Hariadi

Masa depan akan menjadi sebuah tantangan yang berat. Kita akan direpotkan dengan berbagai kemajuan. Entah itu di bidang teknologi, pendidikan dan ekonomi. Ini mengisyaratkan bahwa dibutuhkan karakter manusia yang kuat secara fisik dan psikis. Di samping itu juga dibutuhkan kreatifitas yang sangat tinggi.

Namun, saya sedikit prihatin melihat kondisi generasi anak sekarang. Begitu banyak dari mereka memiliki mental yang kurang kuat. Mental yang begitu bertemu dengan sebuah masalah yang besar, lalu menyerah. Ini menjadi tanda bahwa mental generasi yang ada pada jaman sekarang menurut saya masih rapuh. Contoh konkretnya ialah begitu mengalami putus cinta, maka tidak jarang dari mereka berpikiran untuk mengakhiri hidupnya. Ini sungguh-sungguh menggambarkan mental yang kurang kuat.

Oleh sebab itu, di dalam tulisan saya kali ini ingin menuangkan beberapa gagasan yang terlintas di dalam pemikiran saya mengenai bagaimana memicu seluruh kekuatan yang diperlukan untuk tantangan di masa yang akan datang. Khususnya bagi kalangan orang tua yang memiliki kuantitas lebih banyak dan berkualitas.

1. Orang Tua Menjadi Teman
Ini salah satu hal yang nampaknya agak sulit dilakukan oleh orang tua jaman sekarang. Yang ada ialah menjadi bos. Orang tua cenderung melulu memberikan perintah kepada anaknya. Misalnya, “kamu belajar sana”. Seperti itulah orang tua yang sering saya temui. Bahkan yang lebih parah ialah orang tua menjadi mesin pengeja anak. Mereka selalu memberikan perintah agar bisa melakukan ini dan itu. Kalau si anak tidak mau, maka si anak akan terkena makian. Dampaknya ialah anak akan kehilangan kesempatan untuk menentukan jalan kehidupannya sendiri. Mereka akan mengalami ketakutan dalam mengambil keputusan. Itu disebabkan dari kebiasaan yang ditanamkan oleh orang tuanya. Ini sangat berbahaya bagi anak.

Ada baiknya untuk mencegah hal yang tidak baik, maka ada baiknya hal yang pertama perlu dilakukan oleh orang tua ialah menjadi seorang teman. Ini mengisyaratkan bahwa orang tua harus kembali menempatkan diri sebagai dirinya pada saat anak-anak. Di sini tidak ada larangan dan tidak ada perintah. Yang ada hanya mengajak anak berpikir, memilih dan memutuskan. Karena dengan cara yang seperti itu, maka anak pun akan terbiasa untuk berani berpikir, memilih dan mengambil keputusan. Ini merupakan skill yang juga diperlukan bagi jaman yang akan datang.

Hal yang perlu diperhatikan pada saat menjadi teman ialah orang tua harus bisa menahan emosi. Karena ini merupakan tantangan yang besar. Di sini orang tua akan bertemu dengan beraneka ragam perasaan anak. Mulai dari cacian, makian hingga terkadang rasa kesal yang meluap secara spontan dari diri anak. Pada saat itu terjadi orang tua hanya menjadi polisi lalu lintas. Ia harus mengarahkan dan menemukan bahwa itu adalah hal yang kurang baik jika dipertahankan. Itu harus diubah meski memang itu adalah hal yang manusiawi.

2. Selesaikan Masalahmu
Banyak anak yang tidak ingin terbuka kepada orang tuanya. Tetapi jika kita menjadi teman, segala sesuatunya mungkin akan terjadi. Contohnya ketika anak memiliki sebuah masalah. Misalkan anak baru saja mendapatkan teguran dari guru di sekolah mengenai prestasinya yang menurun. Di sini biasanya orang tua akan meluapkan emosi yang tinggi. Orang tua cenderung marah kepada anaknya karena prestasinya tersebut. Mereka akan memakinya dengan super kencang dan keras. Tetapi apakah itu akan menyelesaikan masalah dan meningkatkan prestasinya?

Sudah jatuh tertimpa tangga. Itulah nasib anak ketika ia mengalami penurunan nilai dan makian orang tua. Di sana ia akan mengalami rasa takut yang tinggi, sehingga takut untuk memutuskan berubah. Karena jika ia melakukan hal ini dan itu sudah diikuti dengan rasa takut terlebih dahulu.

Cukup sudah menakuti anak. Tugas orang tua ialah mendampingi dan mengarahkan anaknya. Oleh sebab itu, yang pasti prestasi yang menurun tentu memiliki latar belakang yang kuat. Kenapa tidak orang tua mencari tahu latar belakang dari menurunnya prestasi tersebut. Ketika anak mulai membuka masalahnya, maka yang perlu dipikirkan ialah bagaimana caaranya anak tersebut dapat menyelesaikan masalahnya sendiri. Orang tua di sini perlu tahu bahwa ada rambu-rambu yang tidak memperbolehkan orang tua turut campur. Karena jika orang tua turut campur, maka anak akan terbiasa untuk tidak mau menghadapi masalah. Analisa, strategi dan mental anak pun akan terganggu.

Demikianlah sedikit tips dari saya. Semoga bermanfaat bagi keluarga Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

date

Maret 2013
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

ART

YANG SUDAH MENGUNJUNGI

  • 162,186 PEMBACA

Iklan Anda

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 821 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: