Ignasius Jonan: “Leadership is a Half Talent, a Half Journey”

Tinggalkan komentar

4 Juli 2014 oleh mbi9

Mungkin banyak di antara kita bertanya-tanya, seperti apa sih kepemimpinan yang baik? Bagaimana membentuk kepemimpinan seseorang? Nah, berkaitan dengan pertanyaan itu, secara kebetulan, kompas.com memberikan figur seorang pemimpin yang berbicara mengenai kepemimpinan. Untuk lebih jelasnya silahkan dibaca artikel mengenai kepemimpinan menurut tokoh yang satu ini.

KOMPAS.com – Banyak orang pintar, tapi belum tentu dari semua yang pintar-pintar itu cakap memimpin dan mengkoordinasikan sebuah tim kerja, dan membawa perubahan. Demikian dikatakan CEO PT KAI (Persero), Ignasius Jonan, dalam CEO Speaks on Leadership Class, yang diselenggarakan oleh Universitas Binus Jakarta, awal pekan ini (30/6/2014).

Sayangnya, kata Jonan, kepemimpinan tidak bisa didapat dari bangku pendidikan formal, pun dari teori-teori buku manajemen SDM dan kepemimpinan. “Leadership is a half talent, a half journey,” tutur Best BUMN CEO 2013 itu.

Kepemimpinan itu separuh bakat, separuh perjalanan. Kalau enggak bakat, sampai mati juga enggak akan bisa (memimpin),” jelasnya.

Jonan mengatakan, banyak pemimpin perusahaan yang kepemimpinan mereka terbentuk dalam perjalanan karir. Tak sedikit pula dari mereka yang hanya sekolah kepemimpinan dan jago teori, namun sebenarnya tidak bisa memimpin.

“Saya itu tidak berbakat ngelukis. Mau dibunuh juga tetap enggak bisa ngelukis. Kalian juga kalau saya suruh mimpin 1000 masinis, pasti enggak bisa. Soalnya beda-beda. Leadership is a half journey,” ujarnya.

Dalam teori kepemimpinan, dikenal ada dua tipe pemimpin. Ada yang process oriented, ada pula yang result oriented. Dalam hal ini, ketika ditanyakan oleh yang hadir, Jonan mengaku lebih memilih result oriented. “Gini. Proses itu buat saya tidak penting, selama tidak melanggar hukum dan tidak melanggar etika. Lainnya urusan Anda,” jelas Jonan mengemukakan alasannya.

“Proses itu ada di sekolah, di kuliah. Anda melakukan kesalahan juga masih diberi kesempatan, karena Anda bayar untuk proses itu. Sekarang dalam dunia kerja, Anda, saya bayar. That’s a big different,” imbuhnya.

“Orang HR itu yang suka process oriented. Siapa yang kerja di HR?” tanya Jonan kepada peserta kelas.

“Keliru itu,” lanjutnya diikuti riuh tawa seisi kelas.

Dia menjelaskan, untuk memastikan tidak melanggar etika dalam mencapai hasil yang diinginkan, Jonan mengaku dirinya adalah salah satu pemimpin perusahaan yang jarang duduk di kantor. “Saya itu tidak pernah menerima laporan yang saya harapkan. Saya cek realitanya apa. Kalau mau saya maki-maki, saya maki-maki,” ujarnya.

“Saya jarang di kantor wong saya jalan-jalan terus,” sambung Jonan.

Terakhir, dalam kelas tersebut, salah seorang peserta juga meminta saran Jonan, agar institusi pendidikan seperti Universitas Binus bisa mencetak pemimpin-pemimpin handal. Jonan memastikan hanya ada dua kunci kepemimpinan, bakat dan perjalanan. “That’s not any institutional creates leader,” tegasnya.

sumber : kompas.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

date

Juli 2014
S S R K J S M
« Jun   Agu »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

ART

YANG SUDAH MENGUNJUNGI

  • 162,744 PEMBACA

Iklan Anda

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 821 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: