Belajar dari Hubungan Bapak Tua dan Anak Muda

Tinggalkan komentar

24 Oktober 2015 oleh mbi9

image

Gambar: gstatic.com

Kemarin saat saya menjalankan rutinitas terapi ke daerah Otista, saya bertemu dengan seorang bapak tua. Bapak tua itu menggunakan kemeja batik lengan panjang dan berwarna biru. Celana panjang berwarna cream. Bapak tua itu menyelempangkan tas di punggungnya.

Bapak tua itu bertanya kepada saya, “asal mana, mas?” Saya menjawab, “saya dari bekasi, pak. Saya datang ke sini ingin berobat atau terapi di lantai 3. Bapak sendiri mau ke mana?”Bapak itu menjawab, ” saya menemani anak saya, mas. Maaf nih…bukannya anak saya manja melainkan saya khawatir anak saya ditipu orang. Jaman sekarang, penipu itu banyak caranya, mas. Mulai dari sebelum naik bis sampai kita di dalam bis. Jenisnya banyak. Jadi, saya melindungi saja.”

Belum selesai cerita bapak tua itu, si anak sudah datang menghampirinya. Si anak mengajak bapaknya itu pergi meninggalkan lokasi. Si anak tersebut sudah lumayan besar usianya. Perkiraan saya berkisar kurang lebih 18-19 tahun. Bukan karena dekat dengan saya tentunya melainkan karena sepertinya si anak memiliki keperluan penting. Lalu, keduanya pergi begitu saja.

“Gila ya…itu bapak dari Kalideres mau ke Klender, ongkosnya tinggal 24 ribu,” ungkap tukang parkir. “Hah…kok bisa?” lanjut saya dengan terperangah. “Iya…itu mau ke Klender. Tapi saya jelasin bahwa kalau ke Klender dngn ongkos seperti itu, bapak harus menggunakan angkutan umum,” ungkap tukang parkir.

Ada hal baik yang dapat kita pelajari dari kisah tersebut. Kita bisa mempelajari bagaimana rasa sayang orang tua dapat diterima oleh anak dengan usia yang masih remaja. Karena pada umumnya, seorang anak yang berusia remaja sangat canggung jika harus pergi dengan orang tuanya. Entah itu karena risihlah atau karena gensilah. Yang jelas, dari ekspresinya, anak tersebut sungguh merasa nyaman sekali.

Orang tuanya pun juga demikian. Bapak itu tidak merasa direpotkan sama sekali oleh si anak. Meski si anak harus pergi ke tempat lain namun memiliki ongkos yang terbatas, bapak itu tetap saja menikmatinya. Inilah yang saya bilang suatu kehebatan yang dilakukan oleh kedua belah pihak.

Kita mungkin belum pernah melakukan apa yang dilakukan oleh bapak dalam cerita tersebut. Mungkin kita terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan yang sepertinya menciptakan alasan yang tidak ada habisnya, seperti “ayah sedang sibuk atau mama nanti rapat.”

Kita juga sebagai anak mungkin juga pernah merasa bahwa pergi dengan orang tua justru kurang nyaman. Kita tidak bisa bertegur sapa dengan temanlah atau makan di tempat nongkrong anak mudalah atau apalah. Seluruhnya akan beralih ke masalah gengsi.

Kita kurang menyadari bahwa waktu dalam kebersamaan adalah penting. Karena di sana kita sebagai orang tua atau kita sebagai anak dapat mengenal karakter satu sama lain. Sehingga, diharapkan dari peristiwa tersebut, hubungan antara orang tua dan anak dapat menjadi lebih harmonis. Dengan demikian dapat terbukalah komunikasi yang indah antara orang tua dan anak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

date

Oktober 2015
S S R K J S M
« Agu   Nov »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

ART

YANG SUDAH MENGUNJUNGI

  • 163,456 PEMBACA

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 821 pengikut lainnya

SPACE IKLAN

2560x1440-black-solid-color-background
%d blogger menyukai ini: