Kesampaian juga Wisata ke Keraton Kasepuhan Cirebon

picsart_01-01-06-26-56

Liburan akhir tahun ini, saya dan istri memilih untuk kembali pergi ke kota Cirebon. Karena sejak menikah kami sepertinya jarang sekali bertemu dengan orang tua. Oleh sebab itu, kami memilih akhir tahun sebagai waktu yang tepat.

Berbeda dengan liburan-liburan sebelumnya. Saat itu biasanya saya menggunakan sepeda motor untuk bepergian. Kali ini, saya lebih memilih jasa Kereta Api. Tanggal 30 Desember kami berangkat menuju Cirebon pada pagi hari. Tiba di Cirebon pada siang hari. Karena tibanya tepat jam makan siang, maka kami (saya, istri dan mertua) makan siang di sebuah warung.

Seperti biasa, jika sudah tiba di Cirebon maka menu yang ditawarkan adalah tak lepas dari Nasi Lengko, Empal Gentong, Empal Asem atau Mie Koclok. Pelayannya bilang bahwa menu yang ada pada saat itu adalah Empal dan Nasi Lengko, maka kami memilih untuk makan dengan menu Nasi Lengko.

Setelah seringkali ke Cirebon, kali ini saya baru tahu namanya Nasi Lengko. Nasi yang dibumbui dengan bumbu pecel, tahu dan toge rebus. Itulah nasi lengko. Perut pun menjadi kenyang. Kami bertiga pun melanjutkan perjalanan hingga tiba di rumah.

Setibanya di rumah mertua, saya luapkan rasa letih yang saya peroleh dari perjalanan. Karena berangkatnya pada pagi hari, maka saya pun merasakan ngantuk yang teramat sangat. Setelah mengganti celana dengan celana pendek, maka saya pun beristirahat. Berbeda dengan istri  yang bercengkarama dengan kedua orang tuanya hingga sore hari.

Singkat cerita, dikarenakan menurut kedua mertua kami belum pernah masuk dan tahu apa yang ada di dalam Keraton Kasepuhan, maka kami berdua diminta untuk mengunjungi tempat itu. Saya merasa sempat ragu. Namun, dikarenakan rasa ingin tahu dan penasaran istri, maka pada akhirnya saya berangkat juga.

Di dalam pikiran saya terdapat pertanyaan, “Di mana ya tempatnya?” Perjalanan yang kami butuhkan untuk tiba ke Keraton Kasepuhan adalah kurang lebih 30 menit. Di sana saya melihat begitu banyak mobil yang berpelat B berjajar di lahan parkir. Ditambah dengan riuhnya pedagang yang menawarkan barang pada pengunjung.

Untuk memasuki Keraton Kasepuhan membutuhkan uang sejumlah Rp 20.000,-/orang. Itu kita bayarkan di pintu loket depan. Setelah itu, kita berjalan menuju ke dalam. Sesampainya di dalam kita akan disajikan bangunan-bangunan kuno. Ketika kita melewati gerbang depan, maka kita pun akan dihadapkan pada pemandangan seperti ini:

img_20170101_134407

Srtelah itu, kita bisa memilih ke bagian mana kita ingin memasuki ruangan. Lebih nikmat lagi jika kita bisa menyewa guide. Di sini memang disediakan guide namun karena permintaan dari mertua, maka kami tidak menyewa guide.

Di sini ada begitu banyak sekali peninggalan yang membuat saya terpesona. Di antaranya terdapat Kereta yang pernah dipergunakan oleh Sunan Gunung Jati. Dikarenakan saya tidak menyewa guide, maka saya tidak tahu namanya. Tetapi selepas dari tempat itu, saya browsing dan menemukan jawabannya. Kereta itu namanya ialah  Kereta Singa Barong adalah sebuah Kereta Kencana yang bentuknya penggabungan dari 4 bagian hewan, singa / macan (tubuh, kaki dan mata), gajah (belalai), garuda (sayap), naga (kepala). Dibuat pada tahun 1571 Saka atau 1649 Masehi. Kereta ini digunakan untuk keperluan Sultan. Ditarik oleh 4 kerbau putih (kebo bule).  Kereta Paksi Naga Liman, dari namanya sudah jelas bahwa kereta ini penggabungan dari 3 jenis hewan yaitu, Paksi = burung (sayap) Naga = naga (tanduk) Liman = gajah (belalai). Dibuat pada tahun 1350 Saka atau 1428 Masehi. Kereta ini digunaka oleh Sunan Gunung Jati untung berkeliling keraton. Itu saya peroleh dari blog http://badofajar.blogspot.co.id (ditelusuri tanggal 1 Januari 2017). Kereta itu sebagai berikut:

img_20170101_134637

Keren ya… ditambah lagi jika kita keliling di seputar kereta tersebut. Kita akan melihat beragam jenis senjata yang pernah dipergunakan atau menjadi cinderamata dari pemimpin-pemimpin di Cirebon.

Di sini saya sedikit tergugah karena ada satu hal yang aneh. Saya bertanya kepada mertua, “kenapa ada samurai?” Mertua saya menjawab, “Dari dulu sampai sekarang Cirebon itu adalah pelabuhan. Sebagai pelabuhan, maka ada begitu banyak bangsa manusia yang pernah singgah dan bahkan memberikan cinderamata kepada para pemimpin.” Saya mengerti dengan makna jawaban dari mertua saya itu.

Lalu, saya berjalan agak dalam lagi dari keraton. Ada begitu banyak benda-benda kuno yang menurut saya begitu berharga dan layak dipertahankan. Ditambah lagi dengan beberapa lokasi petilasan di dalam keraton tersebut. Itu semakin menambah suasana religius dari keraton Kasepuhan Cirebon. Bagi Anda semua yang ingin masuk ke dalam Keraton Kasepuhan tersebut, silahkan sediakan uang lebih untuk masuk ke dalamnya. Apalagi jika Anda ingin menggunakan guide.

Demikian hasil laporan saya, semoga berguna bagi kalian. Jangan lupa, mari kita kembangkan Indonesia dengan terus menggalakan kunjungan ke beberapa daerah di Indonesia. #visitIndonesia

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s