Makna Kebebasan dari Film Kartini

on
Gambar: Indowarta.com

Ada yang sudah menonton film “Kartini”? Mungkin sudah ada yang menontonnya dan juga mungkin ada yang belum menontonnya. Bagi yang belum nonton, silahkan nonton film ini karena menurut saya film ini adalah film yang bagus.

Seperti judul dari film itu sendiri, Kartini. Adalah film yang menyoroti seorang tokoh perempuan pada jaman penjajahan Belanda. Tokoh Kartini dalam film ini dibintangi oleh Dian Sastro. Pemeran-pemeran lainnya bisa Anda baca sendiri dalam poster film atau sejenisnya. Karena yang akan saya bahas dalam tulisan ini bukanlah hal tersebut melainkan pesan moral yang terdapat dari film ini.

Seperti yang kita ketahui bahwa perubahan hidup dalam diri Kartini itu terjadi setelah ia mengenal buku. Meski harus menjalani tradisi pingitan. Yang menurut Kartini dalam film tersebut ialah seperti dipenjara. Namun, setelah diinspirasikan oleh kata-kata Sosrokartono maka ia mulai ingin mengetahui maksud dari ungkapan, “tubuh boleh terpasung tapi pikiran harus berpikir sebebas-bebasnya.” 

Akhirnya dengan berbekal kunci yang diberikan oleh Sosrokartono, Kartini menemukan tumpukan buku dengan bahasa Belanda. Sambil membaca ia juga berimajinasi. Seakan-akan ia juga berhadapan atau pun terlibat dalam cerita yang terdapat di dalam buku yang tengah dibacanya.

Terbukanya wawasan melalui buku tidak hanya ia nikmati sendiri. Ia mengajak serta kedua saudara lainnya yakni Rukmini dan Kardinah. Setelah semakin berkembang dan memahami apa yang dibacanya, mereka coba menerapkan dalam kehidupan sehari-hari apa yang dibacanya itu. 

Kartini, Rukmini dan Kardinah mencoba untuk mengajak masyarakat di sekitar daerahnya untuk mencoba mengukir wayang pada kayu. Hal itu pun sempat menjadi perdebatan oleh mereka. Mereka takut bahwa hal itu akan berdampak langsung pada mata pencaharian mereka, yakni pengrajin kayu. Meski melewati perdebatan namun akhirnya pengrajin tersebut mau menerapkannya dan mengukirnya pada kayu. 

Yang menarik dalam film ini bagi saya pribadi ialah ketika Kartini diajak berbincang dengan ibu kandungnya yakni Ibu Ngasirah. Di sana Kartini diajak oleh ibunya untuk mendengar kisah dari masa lalu yang dialami oleh ibunya. Dari seluruh kisahnya itu mengarahkan kepada Kartini untuk tetap rendah hati dalam menghadapi paksaan terhadap dirinya untuk menikah. 

Alhasil setelah melewati perbincangan yang akrab antara ibu dan anak itu, Kartini mau menerima rencana pernikahan atas dirinya. Namun, ia mengajukan tiga syarat di dalamnya. Ketiga syaratnya itu pun diterima oleh calon suaminya. Mereka pun akhirnya menikah.

Di sini pesan moral yang hendak disampaikan dalam film Kartini ialah Kebebasan pikiran dan tubuh merupakan kenikmatan bagi diri kita sendiri. Apalagi jika kita merasa sudah begitu banyak tahu dan paham akan sesuatu hal yang pernah kita baca melalui buku atau pun jurnal. Kita sudah merasa bebas sebebas-bebasnya. Namun, dalam film Kartini ini kita belajar. Khususnya bagi perempuan Indonesia untuk tetap mampu memilah kebebasan yang dipahami oleh bangsa Indonesia dan kebebasan yang dianut oleh orang luar negeri. 

Kebebasan bagi perempuan Indonesia ialah tetap menjalankan kodratnya sebagai perempuan. Bukan bebas dalam menjalankan hidup dan menghindari kodratnya tersebut. Terkadang kita salah dalam memahami kebebasan. Bebas berarti menjalani hidup semau kita. Tapi ternyata tidak. Bebas itu adalah dengan tetap menjalankan tugas hakikat kita sebagai manusia. “Tubuh boleh terpasung tetapi pikiran harus bebas, sebebas-bebasnya”. 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s